Dream… :))

Ada pepatah mengatakan : Hal yang terindah adalah ketika melihat seseorang tersenyum… Tapi hal yang jauh lebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya.. :))

Keajaiban Cinta yang Saling Melengkapi

on October 25, 2015

                 Saat melihat-lihat beberapa daftar lagu yang ada di google, tak sengaja jemariku mengklik sebuah artikel yang membahas tentang kehidupan dua orang insan, yang bernama Ahmad dan Fatima. Mereka berdua memang memiliki kondisi fisik yang sangat berbeda dengan orang pada umumnya. Namun, Alhamdulillah, ternyata ada sebuah kisah manis dibalik kondisi yang telah menimpa mereka berdua, karena nyatanya mereka hadir di dunia ini untuk saling melengkapi satu sama lain. Apa maksudnya?hehe, penasaran ya bro?. Oke kali ini akan kucoba untuk menceritakan kembali kisah yang dialami oleh Ahmad dan Fatima, kisah nyata suami istri yang saling melengkapi.

                Ahmad, adalah seorang pemuda yang dilahirkan tanpa kedua tangan, sedangkan Fatima dilahirkan tanpa kedua buah kaki. Memang sulit sekali menjalani kehidupan tanpa adanya anggota tubuh yang lengkap, terutama tangan dan kaki. Sebelumnya, pasti Fatima kesulitan sekali jika ingin berpindah tempat, ia pasti harus menggunakan kursi roda kemanapun ia ingin melangkah. Sedangkan Ahmad, ia pasti merasa kesulitan sekali ketika ingin mengambil suatu barang, dan pastinya ia harus menggunakan kakinya untuk keperluan tersebut.

sehidupsemati10
                Alhamdulillah, skenario yang telah dirancang oleh Allah memang sangatlah indah. Sebelumnya mereka memang tidak pernah saling mengenal. Sampai pada saat yang tepat, Allah mempertemukan mereka dalam sebuah momen yang telah dirancang sedemikian rupa. Dan akhirnya, mereka menjadi sepasang suami istri ketika keduanya berusia sekitar 25 tahun. Kini terkabul sudah apa yang diimpikan, Fatima telah memiliki sepasang kaki yang melekat pada diri Ahmad, begitu pula sebaliknya, Ahmad merasa telah memiliki sepasang tangan yang melekat pada diri Fatima. So sweet :)).

                 Ya… Suasana tempat kerjaku malam ini memang sunyi senyap, tak ada suara sedikitpun di ruang guru. Aku terjaga hingga larut malam hari, merenungi kehidupan yang telah kujalani. Kuingat-ingat, sudah berapa kali raut tak menyenangkan terpampang di rona wajahku. Berapa kali kata-kata tak menyenangkan terlontar dari mulutku. Tanpa kusadari ternyata jauh di luar sana banyak orang yang terlahir dengan kondisi lebih memprihatinkan.

                Tak pernah terbayangkan, bagaimana rasanya menjalani kehidupan tanpa sepasang tangan, misalnya saat haus datang, dengan enaknya kita mengambil segelas air dan meminumnya. Lalu bagaimana jika kita tak memiliki tangan untuk mengambil?

                Tak pernah terbayangkan, bagaimana rasanya menjalani kehidupan tanpa sepasang kaki untuk melangkah. Misalnya ketika kita ingin pergi ke suatu tempat, paling dekat halaman rumah saja, bisakah kita sampai tanpa bantuan kursi roda/lainnya? lalu bagaimana jika jalanannya tak semulus yang kita bayangkan, jika ada bebatuan, tangga menurun, ataupun kumpulan pasir, masih bisakah kita melewatinya dengan mudah?

                Ada sebuah kisah yang bisa menggambarkan kondisi demikian, kisah yang pernah kubaca di buku Man Shabara Zhafira karya Ahmad Rifa’I Rif’an. Beginilah kisahnya :

                Ada bapak-bapak yang kehilangan sandal seusai shalat jumat. Marah-marah sendiri dia. “Dasar orang tak tau akhlak. Sudah tahu di masjid tempatnya ibadah koq nyolong sandal!”. Di sebelahnya ada seorang jamaah lain yang sedang duduk di serambi masjid, pemuda yang usianya jauh lebih muda berusaha mengingatkan, “Sudahlah pak, diikhlaskan saja. Semoga nanti dapat yang lebih baik.” Makin marah tuh bapak. “Ikhlas ikhlas, lah iya kamu nggak kehilangan sandal. Lha saya, pulang nyeker ini!”.
Sang pemuda itupun tersenyum bijak, “Bapak Cuma kehilangan sandal. Ini saya sudah tiga tahun nggak bisa pakai sandal.” Pemuda itupun mengangkat sedikit sarungnya, dan ternyata ia tidak memiliki kaki. Ia harus merelakan kakinya diamputasi setelah kecelakaan tiga tahun yang lalu.

                Astaghfirullah, nampaknya aku telah membuang banyak waktu untuk memikirkan hal yang tak pantas untuk pikirkan, terlebih untuk ditangisi. Karena sejatinya kehidupan yang Allah berikan ini sudah amat sangat sempurna. Kulihat sekujur tubuhku, semuanya lengkap tanpa kecuali. Semuanya ada dan tak bermasalah.

                Tapi aku tak menemukan alasan mengapa seolah-olah akhir-akhir ini kehidupan yang kujalani sangat membosankan, melelahkan, dan aku juga tak mengerti sebenarnya mengapa aku merasa seperti ini. Bismillah.. semua ini pasti karena aku kurang peka dengan keadaan sekitar, terlalu fokus dengan urusan pribadiku, hingga untuk mengucap rasa syukur saja mungkin aku sudah lupa, astaghfirullah…

                Jika kita merasa sangat galau dengan kesulitan yang kita hadapi saat ini, masalah datang silih berganti. Ya, termasuk bagi saya juga yang mungkin terkadang galau wkwkwk sepurane nggeh namanya juga manusia. Mungkin kita harus merenungi sejenak apa yang dialami oleh Ahmad dan Fatima, yang sejak lahir telah diuji dengan kondisi fisik yang sedemikian rupa. Selama 25 tahun lamanya harus hidup tanpa tangan dan kaki. Hingga mereka dapat merasakan kemudahan yang diberikan Allah saat keduanya dipertemukan. Kesedihan yang telah mereka alami selama puluhan tahun telah terbayar oleh manisnya kebersamaan :)). Alhamdulillah… :))

             Kebahagiaan pasti bisa dirasakan oleh semua orang, tak tergantung banyaknya materi. Misalnya saat melihat tetangga sebelahku, mereka hanya tinggal di sepetak tempat kost karena belum memiliki rumah, hanya bekerja sebagai buruh pabrik dengan upah minim, tapi harus mencukupi kebutuhan kedua anaknya yang sudah menginjak Sekolah juga. Namun, saat kuamati, mereka sekeluarga selalu rukun, makan seadanya pun kelihatan terasa nikmat karena bersama-sama. Terlebih lagi mereka selalu menyempatkan untuk keluar bersama setiap hari libur. Dan, mereka selalu menyapaku setiap berjumpa dengan senyuman yang indah.

                Ibaratnya sama seperti seekor cicak yang hanya bisa merayap, namun ia selalu bisa mendapatkan nyamuk yang terbang. Artinya bagaimanapun kondisi ekonomi keluarga kita, bagaimanapun fisik kita, kita pasti akan bisa merasakan kebahagiaan jika cinta dari Allah telah melingkupi hidup kita. Alhamdulillah, sepertinya keajaiban cinta sudah mengelilingi keseharian mereka… sepertinya indahnya cinta sudah menyempurnakan setiap langkah yang mereka jalani…

                Buat semuanya termasuk aku juga hehe, always give our smile, Ya.. karena cinta masih ada, dan pasti selalu ada, hanya kita saja yang belum menyadarinya. Tenang saja, waktu yang akan menjawab segalanya hingga skenario indah itu datang… :)).

                Akhir kata, jika kita memiliki berjuta alasan untuk bersedih, percayalah, pasti ada 1 cinta yang selalu membuat kita tersenyum, cinta yang membuat kita merasakan manisnya hari hingga kita lupa akan sakitnya duri. Ya, sebuah cinta sejati, yang tak akan pernah pergi, karena ia datang dari dalam hati… :)).

                 Sekian, terima kasih sudah membaca artikel sederhana ini, semoga bermanfaat. Mohon maaf yajika ada perkataan yang kurang berkenan di hati..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: