Dream… :))

Ada pepatah mengatakan : Hal yang terindah adalah ketika melihat seseorang tersenyum… Tapi hal yang jauh lebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya.. :))

Makan Seadanya, Syukuri Sebesar-besarnya

on October 14, 2015

                  Kubuka tudung saji yang ada di atas meja makan di rumah.. sejenak kulihat menu yang ada di dalamnya. Ya.. seperti biasa makanannya ya itu itu saja. Tapi untunglah ada makanan..karena bila tak ada makanan, maka aku harus menggoreng sesuatu untuk bisa dimakan, ya dinikmati dengan sambal uleg buatan sendiri, rasanya sudah cukup enak koq.

20150110_134428

                Aku hanya membayangkan saja ketika sedang berjalan-jalan di mal maupun restoran lainnya. Kulihat banyak orang dengan enaknya memakan makanan dengan harga yang wuaaaw, misalnya 1 porsi seharga Rp. 65.000. Hem.. itu bisa jadi biaya makan siang selama seminggu. Tapi ya nggak usah jauh-jauh deh, ngebayangin aja terkadang kalo aku uda keluar jalan-jalan di mal sama temen kerja, trus kita makan siang bareng. Ya.. memang habis agak banyak, melebihi anggaran sehari-hari.. Tapi, aku juga enggak sadar kalo itu memang termasuk pemborosan. Namanya juga sekali-kali kan nggak apa-apa hehe..

                Namun… setelah membaca salah satu bagian dari sebuah buku, akhirnya aku mulai mengerti tentang “nikmatnya makan seadanya”. Bahkan, aku sempat menitikkan air mata ketika membaca bagian dari buku ini. Berkali-kali kubaca bagian ini, aku menjadi semakin merasa malu.. setiap hari aku masih bisa menjumpai nasi dan lauk, masih bisa makan teratur 3x sehari, tapi mengapa terlambat kusadari bahwa sesuap nasi itu sangat berharga.

                  Buku tersebut berjudul Allah Loves You, Back To Your Allah, sebuah buku motivasi islami karya Derry Sulaiman. Berikut salah satu bagian kisahnya :

                  Pada suatu hari, Hasan dan Husein (Putra Ali dan Fatimah) jatuh sakit. Ali dan dan Fatimah bernadzar bahwa setelah putra mereka sembuh, mereka akan berpuasa tiga hari sebagai syukur mereka kepada Allah SWT. Alhamdulillah, Allah telah memberi kesembuhan kepada anak mereka. Maka mereka mulai berpuasa menunaikan nadzar mereka.

                  Kala itu, sama sekali tak ada makanan dan tak ada uang untuk membeli makan sahur serta berbuka. Namun, puasa tetap dilakukan walaupun dalam keadaan lapar. Pagi harinya, Ali pergi ke rumah seseorang yang bernama Shamun membawa sekarung bulu domba untuk dipintal menjadi benang. Sebagai imbalannya, ia akan memperoleh 3 sha’ (1 sha’=3 kg gandum).

                  Pada hari pertama, Fatimah memintal sepetiga karung bulu domba, sehingga mereka mendapat 1 sha’ gandum. Fatimah menggiling gandum itu hingga menjadi 5 buah roti, untuk sekeluarga. Pada masa berbuka puasa, mereka duduk sekeluarga untuk makan. Mereka lelah setelah bekerja seharian dan lapar karena berpuasa. Ketika Ali mengambil roti dengan tangannya, terdengar suara seorang pengemis di luar rumah berkata “Wahai keluarga Rasulullah, aku seorang pengemis miskin, berilah aku sesuatu untuk makan. Semoga Allah memberimu makanan yang lezat di surga.”

                  Ali tidak jadi memasukkan roti ke dalam mulutnya. Ia berunding dengan Fatimah, lalu berkata “Sebaiknya roti itu dibagikan kepada pengemis.” Maka kelima potong roti itu diberikan kepada pengemis. Sehingga tidak ada makanan apapun untuk keluarga itu.

                  Mereka melanjutkan puasa pada keesokan harinya. Pada hari itu, Fatimah memintal sepertiga bagian lagi dari bulu domba. Gandum yang diperoleh digiling sehingga menjadi 5 potong roti. Sore harinya ketika saat berbuka tiba, mereka sudah berkumpul untuk makan bersama. Tak lama terdengar suara anak yatim piatu dari luar. Ia berkata “Aku sangat miskin dan hanya sendirian di dunia ini.” Maka mereka pun memberikan semua roti itu kepadanya, dan mereka tidur setelah berbuka dengan air.

                  Pada hari ketiga, Fatimah kembali memintal bulu domba menjadi benang dan mereka memperoleh kembali 1 sha’ gandum yang digiling menjadi 5 potong roti. Dan ketika mereka duduk untuk makan setelah shalat maghrib, terdengar suara tawanan yang meminta tolong mengatakan bahwa ia dalam kesusahan. Maka mereka memberikan kelima roti itu dan kembali tidur tanpa makan apapun.

                  Pada hari keempat mereka tidak berpuasa, tetapi mereka tidak memiliki apapun untuk dimakan. Ali membawa Hasan dan Husein untuk bertemu Nabi SAW. Mereka hampir tidak dapat berjalan, karena sangat lemah kelaparan berpuasa selama 3 hari. Nabi SAW berkata “Sungguh menyedihkan hatiku melihat kalian menderita kekurangan dan kesengsaraan. Mari kita pergi ke Fatimah.”. Nabi SAW menemui Fatimah dan melihatnya sedang shalat Sunnah. Mata Fatimah telah cekung dan perutnya tertarik menempel ke punggung karena sangat kelaparan. Nabi SAW memeluk putrinya dan mendoakan rahmat baginya dan keluarganya. Saat itulah Jibril datang mewahyukan ayat yang artinya :

“Dan mereka memberi makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan [76]:8)

Jibril a.s. mengucapkan selamat kepada mereka dan berkata Allah SWT meridhai mereka.

                  Ya Allah… setelah membaca kisah ini, rasanya batin hamba terasa terharu sekali, bahkan untuk makan saja mereka harus bekerja keras telebih dahulu. Terlebih lagi, mereka merelakan makanan tersebut untuk diberikan kepada orang-orang yang sedang membutuhkan. Ya Allah… hamba baru menyadari bahwa sesuap nasi itu amat sangat berharga di kalangan orang yang membutuhkan. Ketika kondisi benar-benar tak ada makanan apapun, kira-kira apa yang bisa dimakan…?

                  Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, termasuk saya juga, mungkin saya tak sadar telah membeli makanan dan camilan yang tak diperlukan secara berlebihan, kemudian ketika tidak habis, tak sengaja sisanya terbuang ke tempat sampah. Ketika mengambil bagian terlalu banyak di piring, dan tak kuat menghabiskan kemudian sisanya lantas dibuang juga… Astaghfirullah, mohon maaf Ya Allah…

                            Bismillah, semoga kita semua dapat mengambil hikmah mendalam dari kisah tersebut. Semoga kita dapat mensyukuri masakan apapun yang terhidang di atas meja, terlebih lagi jika itu adalah masakan buatan ibunda. Seperti apapun masakan ibunda, pasti ada sentuhan cinta di dalamnya… dan masakan yang dibuat dengan penuh cinta itu pasti akan terasa sangat lezat luar biasa :)).

                  Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih sekali telah memberikan petunjuk berharga lewat salah satu kisah dari sebuah buku. Mungkin saat ini, kita sedang dilanda galau karena apa yang kita inginkan tak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Mungkin kita bersedih karena tertimpa masalah yang membuat teman-teman kita menjauh. Atau mungkin kita mulai bosan dengan kehidupan yang kita jalani. Namun satu hal, bisa jadi kehidupan yang selalu kita keluhkan ini sebenarnya adalah kehidupan yang sangat diharapkan oleh orang lain :)).

                  Bismillah, semoga kisah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Akhir kata, mohon maaf jika terdapat perkataan yang kurang berkenan di hati teman-teman sekalian… :)).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: