Dream… :))

Ada pepatah mengatakan : Hal yang terindah adalah ketika melihat seseorang tersenyum… Tapi hal yang jauh lebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya.. :))

Ada Berkah di Setiap Putaran Kincir Angin… :))

on October 11, 2015

                Kisah kali ini kualami saat perjalanan pulang dari lokasi kerja. Waktu sudah menujukkan pukul 20.30 ketika aku bergegas menyusuri jalanan ambengan ke arah rungkut. Dengan rasa kantuk yang amat sangat kupacu sepeda motor dengan kecepatan sedang. Namun, ada sebuah pemandangan yang membuat langkahku terhenti. Di depan sebuah pertokoan yang sudah pada tutup, terdapat seorang bapak yang sedang terduduk sembari membuat mainan dari kertas, kita menyebutnya kincir angin. Ya, bapak ini sedang berjualan kincir angin di depan toko tersebut.

                Sejenak aku teringat pada keponakanku yang ada di rumah. Dulu aku pernah membelikannya mainan kincir angin, dan ia senang sekali memainkannya di depan kipas angin. Alhamdulillah, saat melihat ponakanku tersenyum senang dengan kincir anginnya, rasanya hati ini ikut terasa damai… :))

              Setelah kudekati, ternyata bapak tersebut adalah orang yang sama dengan penjual kincir angin yang pernah kubeli beberapa saat yang lalu di siang hari. Alhamdulillah, beliau menyambutku dengan penuh senyuman, walaupun dari gurat wajahnya nampak sekali beliau sedang merasa kelelahan. Sembari memilih kincir angin, aku mengajak bicara beliau. Beginilah percakapannya :

“Maaf bapak berjualannya biasanya dari jam berapa?”

“Saya berjualan dari pagi mbak, keliling di beberapa tempat yang beda”

“Oh iya bapak asli Surabaya?”

“Bukan mbak, saya dari desa, jombang, disini tinggal di tempat kost”

“Oh kost sekeluarga pak?”

“Bukan mbak, keluarga saya semuanya ada di jombang, saya datang ke Surabaya buat jualan mainan kincir angin mbak, karena kalau jualan di desa itu sulit lakunya mbak”

“oh, bapak suda sejak taun berapa pak di Surabaya?”

“sudah 2 tahun ini mbak… tiap 2 minggu sekali saya baru pulang ke jombang buat ngasih uang belanja keluarga di desa”

“Maaf, sebelumnya kerja apa bapak?”

“Saya dulunya nggarap sawahnya orang mbak..tapi sekarang sudah ndak bisa lagi mbak”

               Sejenak terlintas di benakku, setiap kincir angin yang dibuat beliau ini dijual dengan harga 2000 rupiah. Kira-kira berapa banyaknya kincir angin yang bisa terjual dalam sehari? berapa keuntungan per hari yang didapat dengan berjualan mainan ini? belum lagi harus dipotong uang kost, beli bahan-bahan, makan sehari-hari, biaya pulang kampung dan biaya belanja keluarga di desa. Apakah semuanya cukup?

               Kemudian… aku berpikir kembali.. semua yang kujalani saat ini, meskipun kadang menjemukan, melelahkan dan mungkin membuatku ingin berhenti… Tapi sejatinya, apa yang telah kulalui sehari-hari itu sama sekali tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjuangan keras yang sudah ditempuh oleh Bapak penjual kincir angin ini. Karena, terik panas matahari di siang hari serta dinginnya hembusan angin malam telah menjadi saksi perjuangan beliau.

              Saya merasa malu sekali, tiap hari saya masih bisa bekerja di bawah teduhnya atap, berdiri beralaskan lantai dan merasakan sejuknya ruangan bermesin pendingin. Namun, terkadang saya masih saja menyimpan rasa galau dan lupa akan segala kenikmatan yang telah diberikan-Nya… Sedangkan seseorang yang bekerja dengan beratapkan langit, beralaskan jalanan, seperti bapak penjual kincir ini… ia masih dapat memberikan senyuman di setiap langkahnya…

             Ya… Mungkin banyak orang di luar sana yang memandang kurang profesi beliau, namun sebenarnya profesi tersebut bisa jadi jauh lebih mulia dari pada profesi yang kita jalani.

Karena beliau telah memberikan kebahagiaan di setiap putaran kincir angin

kegembiraan yang tak ternilai harganya

kebahagiaan di balik senyuman para anak-anak

Seolah-olah selalu ada berkah di setiap putaran kincir angin yang digenggam.

Ini adalah sebuah gambar saat sang bapak sedang berjualan kincir angin di siang hari (diambil di hari yang berbeda) :

Foto-0022 (2)

lokasi : di depan pertokoan arah Rabbani Pucang (Biasanya lokasi beliau berpindah-pindah)

               Alhamdulillah, sang bapak nampaknya sangat bersyukur dengan profesi yang telah dijalani saat ini… Bismillah, semoga kita dapat belajar dari kesederhanaan beliau, semoga kita dapat mensyukuri setiap detik serta langkah demi langkah yang telah kita jalani, apapun profesi yang kita tempuh..

 Akhir kata, ada sebuah quotes yang sesuai untuk menggambarkan kisah ini :

Bahagia bukan berarti memiliki semua yang kita inginkan

Namun.. bahagia itu berarti mencintai semua yang kita miliki… Alhamdulillah… :)).”

          Terima kasih sudah membaca artikel ini, mohon maaf ya bila ada perkataan yang kurang berkenan di hati :))


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: