Dream… :))

Ada pepatah mengatakan : Hal yang terindah adalah ketika melihat seseorang tersenyum… Tapi hal yang jauh lebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya.. :))

Ridha seorang Ibu

on June 29, 2014

          “owek..owek…” itulah kata pertama yang terdengar di telinga ibu.. kata sambutan penuh kebahagiaan dari si kecil yang akan menapaki bumi…, kata paling bermakna setelah berjuang 9 bulan demi kehadiran seseorang, yang dinamakan buah hati…🙂

          Tanpa kita sadari, banyak kata-kata telah kita lontarkan kepada ibu, baik tak sengaja maupun disengaja.. dan semuanya telah terlanjur terjadi. Saya juga mengakui hal tersebut, di saat sedang sebal atau sibuk, sungguh tak terpikirkan bahwa kita telah menyakiti perasaan ibu dengan tingkah laku yang telah kita lakukan. Teman-teman, sejatinya kita adalah manusia yang pastinya tak jauuuuh dari kata khilaf.. terutama ke-khilafan yang sering kita lakukan pada seseorang yang telah melahirkan kita. Dan, kali ini aku ingin berbagi sebuah kisah, yang kudapat saat membaca sebuah buku.

          Kisah berikut dikutip dari buku “Ada Surga di Rumahmu” karangan Oka Aurora (2014) yang menceritakan sepenggal bagian tentang keridhaan ibu kepada anaknya yang bernama Salman Al-Farisi. Bismillah, semoga bermanfaat :

          Keringat meleleh dari dahinya seperti mentega yang diletakkan di sebelah perapian. Tanpa ampun, sebagian lelehannya pelan menyusupi kelopak mata, menimbulkan perih. Sebagian mengalir ke ujung hidungnya yang besar dan membulat. Sebagian rembes ke janggutnya. Salman Al-Farisi mengatur napasnya yang berlari kencang. Saking kencangnya, sesekali ia terbatuk.

“Turunkan Ibu, Nak,” pinta wanita renta yang ia bopong di punggungnya.”Ibu bisa jalan sendiri.”

          Salman menggeleng pada permintaan ibunya yang entah sudah kali keberapa. Napas Salman berat dan terengah, tapi ia tak mau menyerah. Ini putaran tawaf mereka yang keenam. Sedikit lagi, Salman mengencangkan tekadnya, sedikit lagi. Terbayang olehnya pintu-pintu surga membuka lebar untuknya.

          Ratusan jemaah haji berjalan bersama mereka, melantunkan doa sambil tersengal. Zikir ibunya mengayun, mengembalikan Salman ke suatu masa, ketika ia berada dalam gendongan sang ibu. Ia bukan bayi itu lagi. Salman memejam, membayangkan dosa-dosanya. Entah sudah berapa kali ia sakiti ibunya dengan dosa-dosa ini. Apakah Allah berkenan membatalkan sebagian saja jika ia usap luka-luka hati ibunya?

         Salman pernah bertanya kepada seorang alim ulama. “Jika kuajak ibuku berhaji, kugendong ia sampai Makkah, dan kubawa ia bertawaf di punggungku, apakah akan tehapus seluruh dosaku? Apakah akan terbalas seluruh jasa ibuku?”

         Ulama itu hanya tersenyum. “Salman,” sengaja si ulama merendahkan suaranya demi merangkai jawaban yang tepat, “perihal dosamu, aku tak tahu. Jangankan dosamu. Dosaku saja masih berderet-deret.” Ulama itu menarik napas panjang, menatap lantai batu tempat mereka bersila. “Tapi yang ini aku tahu persis, Salman,” lanjutnya. “ Bahkan jika kau dukung ibu di punggungmu, lalu kau bawa beliau seribu kali mengitari Ka’bah, tak setetes pun darah yang beliau korbankan saat melahirkanmu akan bisa kau balas.”

         Kini, kala sedang menyelesaikan putaran tawaf terakhirnya, tubuh Salman dipaksa runduk oleh punggung, kaki, dan tangannya yang kepayahan. Berat tubuh ibunya telah banyak menyusut bersamaan dengan tanggalnya gigi-gigi tuanya. Tapi, memutari Ka’bah dengan ibu di punggungnya, sambil berimpitan dengan ratusan jemaah lain, membuat Salman perlahan terseok. Sejuk yang berembus dari tepian wilayah suci itu belum sanggup melawan teriknya matahari.

“Sedikit lagi, Salman,” hibur ibunya lembut,”sedikit lagi dan kita akan sampai.”

         Saat akhirnya mereka berhasil menutup tawaf hari itu, Salman mendudukkan ibunya dengan cermat di atas sebuah sajadah, jauh dari tepian Ka’bah. Ia biarkan sang ibu menata kembali napasnya. Dalam senyap, mereka bersisian memandangi kerumunan manusia yang semakin sore semakin memadati tempat suci ini.

“Lelahkah, Ibu?”

         Ibunya tersenyum. Kulit yang mengendur di sisi-sisi bibirnya terentang halus. “Harusnya ibu yang bertanya begitu.”

         Salman lalu berlutut di depan wanita mulianya. Dengan kedua tangannya, Salman mengambil genggaman si ibu, lalu menundukkan kepala dan melekatkan dahinya pada tangan tua yang dipenuhi jejak kerja keras itu.
“Ibu, aku tahu, tak bisa kubalas setiap napas yang kau tarik karena polahku, setiap peluh yang menetes saat merawatku. Tak akan pernah bisa kubayar setetes pun darah yang kau tumpahkan saat melahirkanku.” Bahu Salman terguncang keras. “Tapi, Ibu…, apakah engkau ridha kepadaku?”

         Perempuan dengan wajah penuh cahaya itu tersenyum. Matanya berpendar oleh rasa haru dan bangga. Betapa telah ia rentang kuat-kuat setiap jengkal tubuhnya saat membesarkan Salman seorang diri. Tak ada yang tak akan ia korbankan untuk anaknya ini….

         Ia ulurkan tangan kecilnya yang rapuh, membelai Salman yang separuh bersujud di kakinya. “Nak,” pelan ia berucap, “Ibu ridha kepadamu.”


Seketika itu juga, langit Makkah melesatkan sinar putih yang amat sangat terang; sinar mahadahsyat yang nyaris membutakan pandangan Salman. Di kaki ibunya, Salman menangis tergugu-gugu.

         Alhamdulillah, semoga kisah yang dialami oleh Salman Al Farisi tersebut dapat menjadi hikmah bagi kita semua. Bismillah, semoga kita senantiasa dapat menyayangi dan membahagiakan Ibunda tercinta… Aamiin…🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: