Dream… :))

Ada pepatah mengatakan : Hal yang terindah adalah ketika melihat seseorang tersenyum… Tapi hal yang jauh lebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya.. :))

Dilema kehidupan : Kisah di balik Pekerjaan

on May 25, 2013

Hai brow, tiba-tiba saja aku teringat akan masa lalu, ciyyeeh masa lalu…
Sebenarnya kisah kali ini dialami oleh seseorang yang tidak sengaja kutemui saat Psikotes di suatu tempat. Mohon maaf sebelumnya bila dalam cerita ini ditemui unsur-unsur yang membuat kawan-kawan tidak berkenan.

Semoga kisah ini bisa bermanfaat.

Selamat membaca

Flash back 5 bulan yang lalu, tepatnya bulan Januari 2013,

Saat itu, dengan tenang aku memasuki ruang psikotest kerja di salah satu Universitas, di Surabaya. Segala persiapan sudah fix “Ciaaaaat” aku udah siap tempur boz (kayaknya). Sudah memilih tempat duduk yang nyaman di daerah depan. Eh, tiba-tiba ada pengumuman dari panitianya.

“Bagi peserta yang sebelumnya pernah mengikuti psikotes di sini, diharapkan untuk pindah ke kursi bagian belakang.”

Hiyaaa… aku gag jadi psikotest ini berarti.. cos ternyata hasil psikotestku 2 bulan yang lalu di sini masih berlaku, hiks hiks hiks… Akhirnya akupun duduk di kursi belakang nan juauuuh di mata. Oh, sepasang mata ini terus menatap ke depan pengen ngikut tes, karena apa?ya karena pengen memperbaiki test sebelumnya

Tapi… cerita ini justru berawal dari sini brow

Setelah aku diasingkan di kursi bagian belakang :

Saat itu, aku duduk bersebelahan dengan seseorang yang sebaya denganku, laki-laki tepatnya. Seperti biasa, aku hanya diaaam saja. Coba kalau sebelahku perempuan, pasti sudah kuajak ngobrol keliling dunia. Tapi karena sebelahku laki-laki, sudahlah aku diam saja, sudah habis nyaliku wkwkwk.

Aku memang diam, tapi jangan salah cos sebenarnya mataku mulai bermain-main, melirik-lirik form identitasnya.. Ouhh ternyata lulusan teknik kimia, hm… podo iki berarti..

Eh..eh..eh.. ternyata justru orang itu yang ngajak ngobrol duluan. Kita namankan Mr. X saja ya

Mr. X     : Maaf mbak, sebelumnya pernah tes juga ya?dimana mbak sebelumnya?

Aku        : Oh iya mas, dulu sempat tes, di Pabrik rokok, tapi ndak keterima

Mr. X     : posisi apa mbak?

Aku        : dulu posisinya QC

Mr. X     : Lho, lulusan prodi apa toh mbak?

Aku        : Saya lulusan kimia

Mr. X     : Wah, sama, saya juga, kalau saya dari teknik kimia ini

Aku        : hm… ternyata sama-sama kimianya ya hehe (senyum palsu, padahal sebenarnya aku sudah tau dari hasil ngintip CV kalo situ lulusan teknik kimia wkwkwk maap ya)

Aku melanjutkan dialognya

Aku        : wah, masnya yang kemaren psikotest pertama di perusahaan apa?ndak keterima juga ya?

Mr. X     : Hm… di PT. XXXXXXX, sebenarnya sudah keterima, sudah 1 bulan kerja di sana, dan… sekarang sudah resign

Aku        : Lho, kenapa???

Setahuku, PT tempat orang tersebut resign termasuk perusahaan oke, ada fasilitas messnya juga brow… tapi mengapa ia mengundurkan diri…?

Ternyata problemnya sama sekali bukan karena masalah gaji, bukan karena tidak kerasan, bukan karena tak cocok rekan kerja. Bukan, sama sekali bukan. Lantas mengapa? Mari kita simak kelanjutannya.

Sambil tersenyum ringan, ia mengucapkan :

Mr. X     : Sebelumnya ada telepon dari ibuk. Ibuk habis sakit, trus di rumah ndak ada orang laki-laki sama sekali.

Aku        : oh, trus di rumah Ibuk biasanya sama siapa?

Mr. X     : Di rumah cuma ada adik perempuan, sekarang juga masih kuliah. Ibuk pengen anaknya kerja di tempat yang dekat-dekat saja. Ndak usah gaji besar, yang penting bisa ngumpul 1 keluarga.

Aku        : trus, akhirnya kamu resign?

Mr. X     : Iya, sudah mantap aku keluar dari PT yang tadi. Trus, koq Alhamdulillah sekarang ada panggilan jadi Laboran di salah satu universitas, kalau dari rumah juga lumayan dekat. Waktu kuceritakan ke Ibuk, beliau juga setuju dan mendukung. Kemarin sudah interview sampai dekan. Nah, sekarang lanjut psikotest dan ketemu sama sampean ini.

Aku        : lho memangnya sampean ngirim lamaran yang ini kapan?

Mr. X     : aku ngirim lamarannya sudah lama sekali, pas sebelum kerja di PT. yang tadi, dan dipanggilnya pas udah resign.

Aku        : Oh… ya Alhamdulillah, langsung dapat panggilan, semoga sampean bisa keterima di sini, dekat juga kan, semoga bisa buat Ibuk sampean bahagia juga

Mr. X     : Aamiin, iya semoga sampean juga bisa dapat pekerjaan yang sampean senangi

Sungguh berat pasti rasanya melepas pekerjaan yang sudah diraih dengan susah payah. Job fair sana sini, interview sana sini, dan ada kabar gembira ketika diterima. Rasanya satu pintu masa depan mulai terbuka. Bisa memperoleh penghasilan yang layak untuk keluarga, rasanya lega. Tapi, hidup ini tidak selamanya datar, selalu ada hal-hal lain yang mempengaruhi. Justru, itulah yang membuat hidup lebih berwarna-warni. Aku setuju sekali dengan pepatah yang mengatakan “Hidup ini adalah pilihan”, banyak orang yang mengutarakan pendapatnya dengan pilihan kita, ada yang pro ada yang kontra. Tapi kembali lagi, kan kita yang menjalani hidup kita, bukan orang lain.

Sebenarnya kisah di atas sudah terjadi lima bulan yang lalu, tapi aku tiba-tiba teringat begitu melihat iklan di Televisi, iklan yang sangat inspiratif menurutku. Begini cuplikannya :

Ada 5 orang Ibu sedang mengadakan reuni di suatu restoran, mereka mulai membicarakan pekerjaan anak masing-masing.

Ibu 1      : Anakmu kerja apa?

Ibu 2      : Anakku jadi jenderal

Ibu 3      : Lho, anakmu tentara?

Ibu 2      : Bukan… General manager

Dengan serentak Ibu-Ibu lainnya mengucapkan : Oh… GM

Ibu 4      : Trus, kalau anakmu kerja apa?

Ibu 5      : Hm…

Tiba-tiba ada suara dari belakang

Ibu 5      : Nah itu anakku

Anak 5  : Kami mau merayakan mothers day di restoran favorit mama

Ibu 3      : Lho, kan mothers day sudah lewat

Ibu 5      : Anakku setiap minggu merayakannya buat aku

Ibu-ibu lainnya yang berada di sana langsung terdiam

Sungguh inspiratif bukan iklan tersebut (bila anda sudah pernah melihatnya). Awal mulanya membahas profesi anak masing-masing. Nampaknya beberapa dari mereka senang dengan profesi yang telah dijalani oleh anaknya. Sudah pasti orang tua senang bila anaknya sudah bisa mendapat jabatan yang menjanjikan dalam perusahaan, bila anaknya sudah bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Namun, ketika melihat salah seorang anak dari Ibu-ibu tersebut dengan tulusnya selalu mengajak makan malam orang tuanya, selalu merayakan “hari ibu” setiap minggunya, dengan turut serta mengajak istri dan anaknya, demi ibunya tercinta. Tentunya ibu mana yang tidak merasa bahagia?. Ternyata ada point lain yang lebih penting dibandingkan jabatan dalam tempat kerja… yakni kasih sayang antara orang tua dan anak. Dalam sekali hikmah yang bisa diambil dari iklan tersebut.

Tidak perlu menjadi seorang yang besar untuk membesarkan hati orang tua. Tidak perlu hidup bergelimang harta untuk membuat bangga orang tua. Bisa jadi apa yang kita mimpikan, apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan realita yang dihadapi saat ini. Bisa jadi kita kecewa dengan keadaan saat ini. Ketika melihat orang lain sepertinya nampak bahagia. Orang lain memiliki nasib dengan keadaan yang kita impikan dahulu. Karena sebenarnya ALLAH SWT sudah mempersiapkan rencana lain yang lebih baik untuk hambaNya…

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca, mohon maaf bila terdapat perkataan yang kurang berkenan. Tidak ada maksud apa-apa selain ingin membagi cerita yang dirasa ada hikmah dibaliknya. Oh iya, untuk seseorang yang kuceritakan di sini, suatu saat bila kamu tak sengaja menemukan artikel ini, aku mau mengucapkan terima kasih atas pelajarannya dan mohon maaf sudah menceritakan sepenggal kisah hidupmu tanpa meminta ijin terlebih dahulu, semoga kamu berkenan kawan, ya walaupun sampai saat ini kita tidak pernah tau nama masing-masing, atau mungkin anda sudah lupa dengan saya, karena hanya dalam 15 menit itu kita pernah berbincang.

Akhir kata, sampai sekarang masih teringat jelas kata-kata yang sering diucapkan oleh salah satu teman “ Sederhanalah seperti dirimu apa adanya”.

Semoga bermanfaat kawan-kawan

Wassalam


4 responses to “Dilema kehidupan : Kisah di balik Pekerjaan

  1. Maya says:

    Mbak, itu nama iklannya apa ya? saya juga dulu pernah nonton iklan itu. langsung mblesss nyess nontonnya apalagi waktu masih di tanah rantau😀
    tapi cuma sekali itu doang. Dan saking cengoknya jadi udah gak merhatiin itu iklan apa.
    tks

    • maaf baru bales maya, wah aku juga ndak ingat itu iklan apa, yang kuingat pesan moralnya. Iya bener banget iklannya bikin kangen ma keluarga, apalagi klo qta pas lagi jauh..
      salam kenal maya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: