Dream… :))

Ada pepatah mengatakan : Hal yang terindah adalah ketika melihat seseorang tersenyum… Tapi hal yang jauh lebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya.. :))

Menyelami… Filosofi yang Melekat dalam Sebuah Nama

on December 31, 2012

              Kawan – kawan… Tema artikel ini sebenarnya bukan hal yang jarang kita dengar, sudah lumrah, bahkan bisa dibilang sudah melekat sebagai salah satu bagian identitas dalam diri kita, yakni… sebuah “Nama”.

           Sebenarnya, postingan kali ini bisa dikatakan semacam curhat atau berbagi pemikiran. Beda pemahaman tidak masalah, karena masing-masing orang mempunyai sudut pandang yang tidak sama. Pahami yang positif dan buang yang dianggap negatif. Semoga kita senantiasa menyikapi hal dengan sudut pandang yang baik… Aamiin… Selamat membaca,🙂

Surabaya, 26 Desember 2012

          Sungguh terasa amat hangat suasana siang hari di kamar nenek. Seperti biasa, aku mulai mendengarkan cerita tentang masa muda nenek dulu… saat bertemu kakek, saat menikmati kopi tubruk panas – panas di Yogyakarta, saat bersama adik, saat menghadapi penjajahan jepang hingga harus hormat setiap bertemu prajurit sampai lari terbirit-birit, dan lain sebagainya… Banyak sekali momen – momen yang telah menjadi bahasan kami.

         Tapi… sebenarnya telah lama aku memendam sebuah pertanyaan. Berkali-kali ingin kubahas, tetapi selalu saja tidak sempat. Aku rasa inilah saat yang tepat… aku ingin nenekku menceritakan tentang asal – usul suatu hal, yakni asal – usul munculnya namaku.. Ada dua peristiwa yang dapat diingat ketika aku mulai memikirkan namaku.

           Pertama, Flashback, saat acara Pondok Ramadhan berlangsung di SMPN 17 Surabaya tepatnya di ruang kelas I C. Aku tengah duduk di bangku yang persis berada di samping pintu masuk, terlihat masih culun – culunnya, polos, dan bisa dibilang masih kuper abis. Tak lama kemudian, pengisi acara yang didatangkan dari luar memasuki ruangan kami. Ia mulai memperkenalkan namanya terlebih dahulu. Karena sudah lewat, aku sudah lupa namanya. Wah… maklum sudah banyak nama yang keluar masuk jadinya wajar kalau tidak ingat. Dalam kimia, kita biasa menyebutnya sebagai “sudah sering terkontaminasi”. Suatu hal yang menarik dari pengisi acara tersebut, ia mampu menjelaskan arti namanya secara mendalam, mulai dari faktor – faktor yang mendorong tercetusnya nama tersebut hingga hubungannya dengan harapan orang tua, dan tentunya dibubuhi dengan rasa syukur yang selalu ia ucapkan dengan anugrah nama yang dimilikinya,

            Alhamdulillah… Sejenak pandangannya tak sengaja tertuju pada sebuah pamflet yang tertempel di sebelah papan tulis, berupa daftar piket yang memuat nama kami. Setelah cukup lama berkutat dengan pamflet tersebut, akhirnya ia pun membalikkan badan dan menatap kembali ke arah kami. Sebuah kata yang terucap setelah ia melihat puluhan huruf di pamflet tersebut adalah “komala”. Seluruh penjuru mata langsung tertuju ke arahku. Aku sempat kaget begitu mendengar bagian dari namaku tersebut diucapkan. Rasa dag dig dug mulai datang, apa sebenarnya arti komala…? Beliau mulai melanjutkan pembicaraan, tentunya sambil melihat ke arahku sekilas. “Tahukah kalian arti kata komala? komala artinya… sempurna” kata beliau pelan – pelan sambil tersenyum.

              Momen selanjutnya yang teringat ketika membayangkan arti sebuah nama adalah saat pengumpulan revisi skripsi setelah sidang. Seorang kakak kelas angkatan 2007 sempat melihat nama lengkapku yang tertera di cover. “Eh dik, namamu itu artinya apa?” Karena saat itu aku belum terlalu memahami arti namaku dengan jelas, jadinya aku menjawabnya dengan sangat tidak memuaskan, dengan cengar – cengir dan senyum – senyum sendiri. Lantas kakak kelasku melanjutkan pembicaraan. “Eh dik, nama depanmu itu kalau dibalik bagus juga, tapi nanti setelah dibalik jangan ditambahin ya hehehe” “Oh…kalau dibalik kan jadinya seni, maksudnya ditambahin apa ya?”sahutku penasaran :O “Kalau ditambahin air di depannya, jadinya kan… tiiiiiit” Ha….. dan orang di depanku ini mulai tertawa dan terus tertawa, tapi entah mengapa menurutku hal itu sama sekali tidak lucu. Saat melihat ekspresiku yang amat kering, tawanya langsung padam dan terdiam. Sesaat suasana menjadi krik krik krik sejenak. Tapi sama sekali tidak apa – apa, namanya juga guyonan. Justru dengan adanya pembicaraan ini, membuatku semakin penasaran dengan filosofi sebuah nama…

             Setelah kuceritakan dua kejadian tadi, akhirnya nenek mulai memberitahukan kronologi yang melandasi munculnya nama lengkapku… Flashback,, beberapa hari sebelum kelahiranku… Suatu pagi yang cerah, ruang tunggu Pegadaian cabang Wonokromo mungkin bisa dikatakan menjadi tempat bersejarah bagi nenekku. Karena di sinilah begitu banyak waktu diluangkan untuk memikirkan nama si buah hati (cucu) yang tak lama lagi akan datang menghuni bumi. Sembari saat itu nenek mulai menunggu proses pegadaian barang – barang untuk tambahan biaya proses melahirkan.

              Telapak tangan mulai memangku pipi sambil melihat – lihat keadaan di luar dari balik kaca ruang tunggu, dan yang terlihat dengan jelas saat itu adalah toko emas… uwaw… “Oh iya… dinamakan intan saja, eh tapi… koq seperti nama ponakan yang di Bali.. wah, lebih baik jangan, nanti dikira niru” pikir nenekku dalam hati. Tiba – tiba nenek teringat kata – kata almarhum kakek, yang dulu sempat memberikan usulan nama “komala”. Menurut sepengetahuan kakek, komala itu artinya rajanya intan, bersinar cemerlang. Tapi selanjutnya kakek mengatakan… “Jangan deh, terlalu berat kalau diberi nama seperti itu”, Kami sering menyebutnya sebagai “keabotan jeneng”. Walaupun sudah mendengar kata – kata kakek yang agak ragu dengan usulan nama tersebut, nenek telah terlanjur kepincut dengan nama ini. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya “komala” disetujui. Tok tok tok palu diketok.

            Kemudian nenek melanjutkan berpikir… “Hm… komala, komala siapa y…?bagaimana lanjutannya ya…” Pikiran nenek berputar – putar, mengingat – ingat hal yang dapat dijadikan referensi, dan teringatlah seorang wanita yang pernah ia jumpai saat tinggal di Banjarmasin, Ibu Siti Hanifa. Ternyata beliau adalah istri dari Bapak Yusran, Kepala Department Perdagangan di sana (masih sekeluarga dengan kakek). “Hm… Siti Hanifa kan kelihatannya nama yang bagus, bijaksana, hanifa kan lemah lembut, siapa tau nanti cucuku ini bisa baik seperti itu” Akhirnya… sampailah pada nama Komala Siti Hanifa…

            Bismillah… Hari yang dinantikan telah tiba, malam jumat kliwon, menjelang Maghrib pukul 17.15 WIB, terdengar suara tangisan kecil… “owek… owek… owek…”, seorang bayi dengan berat 3 kg 3 ons telah dilahirkan… Alhamdulillah Ya ALLAH… Tak lama setelah bayi ini lahir, terdengar suara Adzan Maghrib berkumandang, Alhamdulillah… semakin bertambah kebahagiaan… Sebelum “komala siti hanifa” disyahkan, bunda memiliki sebuah permintaan untuk menambahkan kata “ines” di depan nama tersebut. Karena… menurut bunda, nama itu adalah panggilan kesayangan terhadap buah hati tercintanya ini. Dan… akhirnya si kecil tersebut sekarang sudah menjadi seorang wanita, wanita yang sangat beruntung bisa dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh bunda, nenek, dan kakek. Walaupun… sampai saat ini aku tidak tau mengapa bunda menambahkan nama “ines”, tapi yang pasti ini adalah nama pilihan dari bunda… ibu… mama… nama panggilan 🙂

              Baru – baru ini, sebuah momen mengharukan terjadi kembali, sekitar 1 bulan yang lalu… Pada saat aku membaca terjemahan surat Al-Baqarah, serasa air mataku ingin menetes, sungguh terharu rasanya mengetahui arti sebuah kata yang berhubungan dengan namaku Hanifa.. Sesuatu hal penting yang kita ketahui dari sebuah penemuan sendiri yang tidak disengaja seperti ini rasanya benar – benar lebih mengena di hati.

            Alhamdulillah… artinya sangat sangat bagus… T_T Satu bagian nama yang belum dibahas… yakni Siti, setelah melakukan pencarian, akhirnya didapatkan sebuah kutipan.. “Adapun nama siti yang senantiasa ditempatkan di awal nama perempuan, kami belum mendapatkan dalil yang mensunahkan pemberian nama dengan nama tersebut. Sepengetahuan kami, kata siti berasal dari bahasa Arab, sayyidati (tuan perempuanku) yang kemudian disingkat menjadi siti” Kata Ustadz Yusuf Qardhawi dkk (2003).

          Saat ini, pandangan serasa berubah… bukan harus menggunakan ines edogawa, inyess, kokom, maupun iin sebagai nama beken. Nama – nama tersebut sungguh tidak akan bisa digunakan sebagai bagian dari identitas pada sebuah nama yang telah diperoleh dari sebuah perjuangan untuk meraihnya..

          Alhamdulillah… kawan – kawan, mari bersyukur atas nama yang telah kita miliki, serta… mari mencoba menyelami filosofi yang tersimpan di dalamnya… dengan begini semoga kita semakin termotivasi untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik… dan juga dengan mengetahui pentingnya sebuah nama.. semoga kita dapat mempersiapkan nama yang baik bagi buah hati nantinya.. 🙂 Karena… dalam sebuah nama terdapat segenap doa dan harapan… Terima kasih kawan – kawan sudah rela meluangkan waktu untuk membaca tulisan yang sederhana ini… Semoga bermanfaat…🙂 Surabaya, 31 Desember 2012


4 responses to “Menyelami… Filosofi yang Melekat dalam Sebuah Nama

  1. Saya ada pengalaman mengenai hal ini.. time sekolah dulu2.

    .. saya faham maksud awak… teruskan usaha… penulisan dan gaya bahasa
    yg baik.. tahniah…

  2. Click here says:

    That is an excellent website. It has great content and the design is beautiful. You’ve some great ideas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: