Dream… :))

Ada pepatah mengatakan : Hal yang terindah adalah ketika melihat seseorang tersenyum… Tapi hal yang jauh lebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya.. :))

Bukan Sekedar Obat Tetes Mata

on December 29, 2012

Kawan-kawanku.. cerita ini bukan fiktif belaka (Sebagian besar berdasar kisah nyata dan sebagian lagi adalah bentuk pengembangan cerita).

Maaf ya, nama berikut identitas para tokoh dalam cerita ini telah disamarkan untuk menjaga hal-hal yang mungkin dianggap privasi

sbelumnya maaf ya bila dalam cerita ini ada hal-hal yang kurang berkenan di hati…

Selamat membaca🙂

Tak pernah kusangka, kedatanganku ke Rumah Sakit Dr. Soetomo Karang Menjangan pada hari Sabtu 1 Desember 2012 akan membuka salah satu jendela mata yang telah lama terselimuti oleh kabut, sebuah pencerahan yang datang tiba-tiba.

Surabaya, 1 desember 2012

Pagi yang cerah menemani salah satu sudut pinggiran kota Surabaya, Rungkut. Suasana halaman rumah terasa tenang, karena semalam turun hujan, bau tanahnya pun masih terasa. Seketika pandanganku teralihkan oleh suara bunda.

“Nifa, nanti jam setengah sepuluh temani Ibu ke Rumah Sakit ya.”

“Siapa yang sakit bu?”

“Ibunya tante Dinda terserang stroke”

“Ya ALLAH…iya bu, nanti Nifa temani ke sana”

Tepat pukul 10.30 kami bergegas dengan mengendarai sepeda motor. Pelan-pelan sepeda motor melaju karena jalanan agak licin dan tergenang air. Di tengah perjalanan, ada salah satu sepeda motor yang melintas dengan cepat di sebelahku. Ketika ia mencoba untuk menyalip…Sreeeeeeeeeeeet air yang tergenang itu lantas menciprati bajuku. Sontak aku kaget, marah, kesal. Oh tapi entah mengapa si pengendara motor pelaku “Pencipratan” tersebut hanya melirik sedikit lalu ngibrit.

“Aduuh, basah semuaa” keluhku kesal

“Sudah, sudah nanti kan bisa ganti baju kalau sudah nyampe rumah”

Aku kurang bisa membedakan maksud ibuku, apakah itu menghibur atau gimana, kan udah jelas kalau sudah nyampe rumah nanti bisa ganti baju, lha tapi kita aja kan belum sampai ke lokasi masa sudah mikir mau pulang ke rumah.

Tak lama kemudian kami tiba di Rumah Sakit Dr. Soetomo. Keadaan rumah sakit di setiap tempat hampir sama, selalu ada nuansa-nuansa khas yang membuat merinding. Jalan yang telah disetting dalam sebuh lorong-lorong panjang dan berliku-liku makin menghidupkan suasana. Sesekali mataku menengok ke samping, beberapa orang nampak cemas sedang beberapa ada yang mulai menggelar tikar di lantai. Itulah fenomena yang lazim dijumpai di rumah sakit.

Kami hanya “plonga-plongo” berdua, mencari dimanakah ruang seruni itu berada. Sekali dua kali kami bertanya pada orang yang ditemui. Tapi akhirnya kami hanya berputar-putar ke sana ke situ tidak jelas. Oh dimanakah Pak Dokter Suster kalian dimana…

Rasanya seperti melihat pelangi seusai hujan ketika tampak sekelompok orang yang disebut “dokter muda” lengkap dengan jas lab sedang berdiskusi dalam sebuah ruang. Karena sudah lelah, saya menyelonong masuk dan akhirnya…

“Maaf, hehe ruang seruni itu dimana ya?

“Mbaknya keluar ruang ini, belok kiri lalu belok kanan. Ada perempatan trus belok kanan lurus saja. Itulah ruang seruni.”

“Makasi banyak ya, maaf sudah mengganggu.”

Alhamdulillah… Petunjuk yang diberikan sangat jelas, dan dengan segera kami pun melangkahkan kaki menuju Ruang Seruni. Untuk kesekian kalinya, aku ingin memberikan apresiasi pada orang-orang yang mencetuskan kata-kata “bertanyalah pada orang yang tepat dengan ciri-ciri mendukung agar tidak tersesat di jalan”.

Saat ini kami sudah berada di ruang Seruni, bagitu masuk ke dalam langsung nampak wajah-wajah serius menatap kami.

“Maaf, Ibu ada perlu apa?”

“Kami ingin menjenguk saudara”

“Namanya siapa?”

Ha???aku dan ibuku saling melihat. Bahkan kami tidak tau nama asli pasien yang akan kami kunjungi, yang kutahu hanya nama panggilannya “mbah wi”

Sekilas aku melihat-lihat daftar nama pasien, perhatianku tertuju pada satu nama karena nama tersebut belakangnya hampir sama. Tapi, aku takut mengusulkan pendapat yang kurang meyakinkan, malah khawatirnya rasa sok tahuku itu bisa menyesatkan.

“Hm…saya kurang tahu nama aslinya Pak, yang jelas beliau sudah tua.”

“Lho…semua pasien di sini juga sudah tua bu, alamatnya di mana?”

“Karang menjangan Dok,,”

“Oh..lurus saja kamar no 7, paling pojok sebelah kiri”

Alhamdulillah…Terselamatkan oleh alamat. Jadinya kami tidak perlu memeriksa satu persatu ruang dan mengganggu aktivitas di Rumah Sakit.

Begitu kubuka pintu ruang Seruni no 7, di hadapanku terlihat keluarga Ibu Dinda, keluarga Bapak Fuad, tamu lain, serta…seseorang yang terbujur di atas ranjang, mbah wi. Keadaan mbah wi cukup memprihatinkan, badannya terlihat sangat lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Kemudian Ibuku mulai mendengarkan cerita dari Ibu Dinda tentang kondisi mbah wi.. Sementara aku?

Ya..sebenarnya.. sejak melihat keadaan kamar tersebut perhatianku sudah tertuju pada sebuah keluarga kecil yang berada tepat di samping ranjang mbah wi, keluarga Bapak Fuad. Bapak Fuad adalah salah satu anak dari mbah wi.

Mengapa saya tertarik?

mari kuceritakan kronologinya berikut :

Hampir sebagian besar anak mbah wi memiliki kondisi yang bisa dibilang berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Cara bicara agak melambat, terlihat ling-lung dan bahkan untuk berjalan saja mesti berpegangan ke tembok. Riwayat sebab akibatnya pernah kudengar. Begini ceritanya, semasa mengandung, setiap wanita diharuskan mengkonsumsi obat-obatan yang ukurannya agak besar dan yang namanya obat pasti rasanya sangat pahit, terlebih lagi bagi wanita yang sedang mual-mual. Keengganan mbah wi untuk mengkonsumsi obat tersebut diduga menjadi alasan utama yang berdampak panjang bagi anak-anaknya.

Mengapa disebut jangka panjang?

Karena efeknya baru mulai nampak kira-kira saat sang anak mulai menginjak bangku SMA. Hampir anak-anak dari mbah wi mengalami hal demikian. Sementara, Bapak Fuad juga mengalami keadaan seperti yang telah diceritakan di atas.

Sekian Flashbacknya, karena pikiranku telah teralihkan kembali oleh keluarga Bapak Fuad.

Ku lihat kembali Pak Fuad..mulut beliau agak mengangga, pandangannya berlalu ke kanan dan kiri tidak jelas dan hingga akhirnya tertuju kepadaku

“Nifa…”

“Dalem Bapak Fuad…”

“Kapan hari itu ndak terasa ya kita sering bertemu di Dinas” ucapnya sambil terbata-bata.

Lantas aku tersenyum mengingat-ingat masa kunjungan kira-kira enam bulan yang lalu di suatu dinas, tempat Bapak Fuad bekerja.

Seperti ini ceritanya :

Aku dan dua orang temanku, Silvi dan Tono mempunyai agenda di sebuah Dinas untuk acara kemahasiswaan. Kala itu sudah masuk waktu shalat Dhuhur dan kami pun memasuki masjid yang terletak di Dinas tersebut. Saat berada di masjid, aku melihat sosok yang tidak asing yakni Bapak Fuad. Ternyata setiap harinya beliau bekerja di Masjid ini sebagai seorang Ta’mir, sungguh profesi yang amat mulia. Dengan kondisi demikian, beliau masih bersemangat mengerjakan Shalat lengkap dengan Sunnah.. Subhanallah…

Tak jarang aku mengamati beliau bersebelahan berbincang-bincang dengan para petinggi Dinas setelah mengerjakan Shalat berjamaah. Menurut informasi yang kudengar dari Ibu, beliau selalu berada di Masjid setiap hari dan baru pulang ke rumah pada hari sabtu dan minggu. Suatu ketika tak sengaja terdapat sebuah insiden kecil, kacamata Silvi temanku tertinggal d tempat Wudhu. Kami bergegas kembali ke Dinas untuk mencari kacamata tersebut. Alangkah bahagia hati Silvi kala mengetahui kacamatanya disimpan baik-baik oleh Bapak Fuad. Alhamdulillah…🙂

Sejak saat itulah, rasa kebanggaanku semakin besar terhadap paman yang luar biasa, luar biasa karena kebaikannya.

Saat ini..di dalam ruang yang sama kami dipertemukan kembali. Alhamdulillah

Aku melihat seorang wanita berkerudung merah muda, sosoknya semakin terlihat cantik berseri-seri ketika ia tersenyum, dia adalah istri dari Bapak Fuad.

YA ALLAH… inikah wanita hebat yang selalu berada di samping Pak Fuad?, wanita sederhana tapi penuh kasih sayang. Disampingnya ada dua orang anak kecil, yang satu sudah SD dan satunya masih Playgroup. Anak-anak yang amat lucu, karunia ALLAH SWT.

Mari kita renungkan sejenak…

Pak Fuad dengan kondisi yang demikian dapat menjalankan ibadah dengan tenang..

Hidup ditemani seorang bidadari yang setia, serta buah hati yang sedang lucu-lucunya…

Rasanya mereka benar-benar terlihat amat sangat bahagia.

Di sisi lain, aku melihat bahwa manusia saat ini telah diperbudak oleh kehidupan duniawi. Memikirkan uang, jabatan, dan popularitas. Namun, hampir banyak yang jauh kebahagiaan. Hm..karena segala materi yang dimiliki, sebanyak apapun itu…tak akan pernah dapat membeli sebuah “kebahagiaan”.

“Tok-tok” terdengar ketukan pintu, seorang suster membawakan makanan untuk mbah wi berupa sepiring bubur.

Akhirnya, dengan sabar dan telaten istri Pak Fuad menyuapi mbah wi perlahan demi perlahan.

Tak sadar tiba-tiba air mataku menetes…sudah kuseka namun sulit untuk menghentikannya.

Maaf, melihat keadaan mbah wi sudah pasti aku bersedih. Namun, linangan air mata ini adalah bentuk rasa terharu melihat sebuah keluarga kecil nan sempurna…

Hingga akhirnya aku berpikir kembali tentang sosok Pak Fuad yang jelas jauh berbeda, berbeda… karena ketulusannya, karena “ketampanan hatinya” sehingga membuat istrinya jatuh cinta.

Saat ini aku hanya bisa mendoakan semoga keadaan mbah wi lekas membaik..dan tentunya… semoga kisah keluarga kecil yang kujumpai hari ini dapat awet untuk selamanya…

Terima kasih banyak telah memberikan sebuah pelajaran yang amat dalam🙂

Setelah berpamitan dan keluar dari ruang seruni, aku masih saja berkutat dengan mataku yang baru saja meneteskan air, rasanya “fresh”… seperti mata yang awalnya gatal, pedih kemudian segar kembali setelah diberi obat tetes…

hm..ya tak bisa dipungkiri mata adalah organ vital bagi manusia dan keberadaan obat tetes bisa mengaktifkan kembali fungsi mata seperti tombol refresh dalam komputer…

Sebenarnya… mata memiliki makna yang sangat luas, dan ada salah satu bagian mata yang membutuhkan obat tetes tapi obat tersebut tidak diperjualbelikan, tidak dapat ditemui di apotek atau bahkan di katalog index…

Bagian ini dapat dengan mudah mengalami iritasi, keletihan, dan bahkan meredup… tapi yang menakjubkan hanya dengan sebuah sentuhan kecil.. bagian ini dapat terbang kembali, seolah-olah mendapat siraman yang amat hebat..

ya.. bagian mata ini adalah “mata hati”

Berbagai pelajaran dari kisah-kisah yang telah dilalui, dari untaian kata atau fenomena yang telah dibaca, dengar, lihat, dan tulis bisa jadi dapat mempengaruhi kondisi mata hati…

Alhamdulillah, semoga hal-hal yang positif dari “kisah kilat seharian” ini dapat bermanfaat …🙂🙂🙂

Terima kasih sangat kepada : Pamanku tercinta dan istrinya,🙂 T_T

“sebuah hal kecil dapat terlihat amat besar maknanya bila diresapi dengan sudut pandang yang berbeda.”

Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca…Sekali lagi, semoga bermanfaat kawan…

Surabaya, 9 Desember 2012


2 responses to “Bukan Sekedar Obat Tetes Mata

  1. their safety record. The sunglasses are made to resist the impact of heavy objects and will remain intact even after a fall. The glasses are not just good for the wearer’s physical appearance but also

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: