Dream… :))

Ada pepatah mengatakan : Hal yang terindah adalah ketika melihat seseorang tersenyum… Tapi hal yang jauh lebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya.. :))

Si Hijau yang Ingin Tersenyum Kembali, sebuah Dongeng tentang Flora

on December 22, 2012

http://youtu.be/SuQ6_XBR_i0

Video yang diambil pada tanggal 19 Desember 2012 ini bertempat di antara Jalan dukun dan jalan ke arah Sunan Drajat, tepatnya di salah satu sudut pedesaan Gresik. Tapi maaf, aku kurang begitu tau secara tepat nama desanya. Serasa takjub, sepanjang mata memandang yang terlihat dominan adalah sawah dan pepohonan… hingga terlupakan sebuah pertanyaan, Desa apakah ini??
Ya… suasana “hijau lepas” yang hampir sulit kujumpai di Surabaya.

Bila mendengar kata “hijau”, sebagian besar dari pemikiran kita pasti akan membayangkan tumbuhan, entah itu rerumputan, pepohonan, persawahan dan lain-lain. Karena warna ini bisa dikatakan mewakili nuansa alami dari sekelompok anugerah penyejuk.

Berikut ini merupakan sebuah ilustrasi cerita tentang “si hijau” yang ditulis berdasarkan inspirasi dari video di atas. Selamat membaca kawan…🙂 Semoga bermanfaat…

– – – – – – – – – – – – – – – – –Si Hijau yang Ingin Tersenyum Kembali– – – – – – – – – – – – – – – – – –

Suatu ketika, si hijau yang tinggal bersama saudara-saudaranya di sebuah pedesaan terpencil mulai menyanyi riang. Senyumnya terus terkembang saat angin-angin menyapa dengan lembut, sepoi-sepoi… Suara kicauan dan gemericik air sungai di sekitar makin menambah rasa damai.

Tiba-tiba sekelompok langkah kaki datang mengelilingi suasana hangat itu. Lantas tangan-tangan dari mereka menggali tanah dan memindahkan si hijau dan beberapa saudaranya ke dalam wadah hitam, gelap nan sempit. Sementara di seberang sana, sudah menanti sebuah mesin beroda empat dengan bak yang cukup luas. Ada apakah gerangan?

Di dalam kendaraan yang bergoyang-goyang, si hijau dapat merasakan sebuah perpindahan, angin berhembus lebih kencang, dan juga suasana yang terus menerus berubah. Roda empat terus melaju hingga sang mentari telah berganti shift dengan rembulan… Malam makin sunyi…yang terdengar hanya suara klakson dan tek tek bakso yang baru saja dilewati. Lantas sempat muncul sebuah pertanyaan. Kemanakan si hijau akan dibawa…?

Semua tanda tanya telah terjawab saat pagi tiba. Ternyata roda empat telah menempuh perjalanan jauh. Roda empat pas menghentikan lajunya di depan sebuah pagar putih, yang terletak di pinggir jalan raya besar. Tampak di dalamnya sebuah bangunan mewah bergaya Eropa dengan halaman yang amat luas. Di halaman tersebut, berjajar kawanan sebangsa si hijau, yang akan menjadi keluarga barunya. Namun, entah mengapa kondisi kawanan tersebut tak segar, bahkan beberapa tampak layu dan menguning.

Akhirnya si hijau ditempatkan di dalam sebuah halaman nan mungil, dimana proses adaptasi harus segera dilakukan. Sekilas semua tampak baik-baik saja. Namun, beberapa saat kemudian…Oh tidak… si hijau mulai batuk-batuk. Bukan hanya itu, hampir seluruh bagian dari halaman tersebut ternyata juga mengalami hal yang sama. Mengapa bisa demikian?

Setelah ditelusuri, ternyata aroma asap semerbak yang dihembuskan oleh mesin yang berlarian ke sana ke mari merupakan alasan utama penyebab serangan udara tersebut. Sudah sewajarnya, karena lokasi huni saat ini tepat bersebelahan dengan jalan raya besar, sehingga intensitas untuk mengalami kontak dengan bahan-bahan yang dianggap “beracun” juga makin besar.
Hari demi hari telah berlalu…

Si hijau tidak seceria seperti dahulu… Kadang kala… terasa haus saat pasokan air tak kunjung dikirim.. tanah pun menjadi agak tandus..
Kasihan si hijau dan teman-temannya..
Si hijau merasa sedih.. mengapa bisa suasana di tempat ini bertolak belakang dengan tempat yang dulu…?
Dalam perenungan, si hijau mulai merindukan masa lalu…

Teringat kampung halaman
Teringat persawahan
Teringat gelak dan canda tawa dari suara-suara kecil nan lucu dengan menenteng tas di bahu mereka…
Teringat arit dan pacul, walau rasanya ingin kabur saat melihat 2 benda ini..
Dan pastinya…yang paling dirindukan.. saat teringat sentuhan-sentuhan tangan lembut dari sosok-sosok yang selalu merawat si hijau dan kawan-kawan, dengan senyuman yang amat tulus, senyuman para pecinta lingkungan…

Oh… dimanakah kalian berada para pecinta lingkungan?
Maukah kalian membawa kami ke tempat yang masih alami… ke tempat yang jauh dari keramaian ini…

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Dari cerita di atas, saat ini terbayang seberapa luaskah, seberapa banyakkah lahan hijau yang tersisa di belahan bumi… kalaupun ada, tak tau seberapa lamakah tempat tersebut akan bertahan. Entah 100 tahun lagi, atau hanya tinggal seminggu lagi, sembari tempat tersebut akan dimodif menjadi pusat perbelanjaan, lokasi hunian, dan lain sebagainya, seperti yang tampak pada umumnya. Sungguh ironis memang, tetapi ini adalah realita.

Kawan…sebenarnya si hijau tidak jauh dari kita. Setiap hari kita melihatnya, di taman, di halaman maupun di pinggir jalan. Seandainya saja “si hijau” dapat berbicara, pasti tangisannya sudah terdengar saat melihat keadaan lingkungan saat ini.

Tidak usah jauh-jauh, terkadang juga aku merasa malu, saat dilanda rutinitas dan hal-hal lain sehingga sering sekali lupa akan keadaan tanaman di halaman sampai berlarut-larut kekeringan. Bersyukur sekali, nenek tercinta tidak bosan-bosannya mengingatkan untuk menyiram si hijau… Alhamdulillah…

Kawan… mari kita kembalikan keceriaan si hijau, semua bisa dimulai dari hal paling dekat, yakni kawasan sekitar halaman rumah kemudian nantinya semoga bisa berimbas baik ke kawasan-kawasan dengan si hijau yang lebih melimpah… Karena ada kata bijak mengatakan “Kita tak akan siap menghadapi sesuatu yang besar, jika kita tidak mau memulai dari sesuatu yang kecil”. Jadi tak ada salahnya memulai dari lingkungan sekitar. Jangan biarkan si hijau hanya tinggal cerita dan terus menderita.
Mari sayangi dan lindungi si hijau, karena dibalik senyumannya… tersimpan kebahagiaan kita di dalamnya🙂

Terima kasih banyak sudah mau meluangkan waktu untuk membaca, semoga bermanfaat kawan🙂🙂🙂

Surabaya, 22 Desember 2012


One response to “Si Hijau yang Ingin Tersenyum Kembali, sebuah Dongeng tentang Flora

  1. You’ve surely got to be nuts to place out such content but it will grab my attention!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: